Saat “titik
air” itu pergi…
Mendung bergelayut
di angkasa..
mencoba
menahan sinar yang hendak menyentuh titik terkecil di permukaan bumi..
Lama sudah
sang awan hitam menahan kumpulan embun yang semakin lama semakin tak
tertampung..
Rintik rintik
pun mulai turun..
mungkin
kasihan pada sang awan yang semakin lama semakin mendekat ke bumi..
Tetes tetesnya
mulai menyentuh lapisan lain..
Lapisan yang
sangat membutuhkan nya..
Lapisan yang
dahaga menunggu sejuknya..
Tetes-tetes
itu mulai deras ..
rinainya
menerobos masuk ke sanubari..
Mengaliri lorong
jiwa dari kemarau tak berkesudahan
Sesaat..
rasa tenang mulai menghampiri ..
Sejenak hati
serasa melambung tinggi..
Awan hitam
telah hilang.. angin telah membawanya ke tempat lain..
Ataukah telah
habis dilimpahkan ke bumi?
Hanya gerimis
yang tersisa.. mencoba memberi jejak sang hujan..
Walau sesaat,
gerimis sudah mencoba memberi arti..
Hanya gerimis
yang tersisa.. menuntun rinai yang deras menjauh..
Lorong jiwa
yang sempat basah pun mulai mengering lagi..
Menunggu datangnya
aliran sejuk yang entah kapan berkunjung lagi
Hujan telah
berhenti.. mendung mulai menjauh
Hanya gerimis
yang tersisa.. tapi..
Kenapa duka
ini tak kunjung pergi?
Andai hujan
datang lagi, ingin ku berada di alam bebas..
Menengadah..
menerima setiap titik air yang jatuh
Memejamkan mata
mencoba menghayati maksud dibaliknya
Dan membuang
asa yang layu .. jauh terbawa angin
——-
Lhokseumawe
21 maret 2007
10:30
wib